Kita telah mengenal Atlantis yang legendaris sejak lama. Selain menarik minat para arkeolog dan penjelajah, Atlantis juga menarik perhatian para panganut new age, ufolog hingga nazi Jerman. Bahkan beberapa orang mengatakan bahwa bangsa Atlantis adalah sekelompok ras super keturunan alien yang memiliki teknologi tinggi. Tapi ngomong-ngomong, berapa banyak dari kalian yang pernah membaca buku Timaeus dan Critias tulisan Plato ?
Selalu ada perdebatan apakah Atlantis yang dideskripsikan oleh Plato merupakan sebuah fiksi atau kenyataan. Saya sama sekali tidak kesulitan untuk menerima teori bahwa Atlantis adalah sebuah bangsa yang benar-benar ada dalam sejarah. Namun sepertinya saya mengalami kesulitan untuk menerima teori yang mengatakan bahwa Atlantis adalah negeri para dewa, Ras super keturunan alien dengan teknologi super tinggi, atau teori para penganut new age yang menganggap Atlantis sebagai sebuah benua mistik yang memiliki peranan signifikan dalam kehidupan umat manusia.
Hitler bahkan percaya bahwa bangsa Arya adalah keturunan langsung dari Atlantis yang membuat ia memerintahkan pencarian benua ini.
Jadi saya memutuskan untuk membaca langsung dari sumber legenda Atlantis, yaitu Timaeus dan Critias karangan Plato yang ditulis pada tahun 347 SM. Tentu saja kalian tahu bahwa manusia cenderung membesar-besarkan sesuatu. benar kan ? Jadi saya harus mencari tahu sendiri apa yang dikatakan Plato mengenai Atlantis.
Dan saya tidak menemukan satupun deskripsi yang mengindikasikan bahwa ras Atlantis adalah ras super keturunan alien dengan teknologi super tinggi. Teknologi dan kemampuan yang dideskripsikan Plato mengenai Atlantis sebenarnya sama saja dengan teknologi yang dimiliki oleh bangsa purba lainnya seperti Yunani, Cina dan Mesir. Bahkan, dalam tulisan Plato disebutkan bahwa Bangsa Atlantis kalah berperang dengan Yunani (Saya percaya kalian belum pernah mendengar soal ini).
Mungkin yang membuat orang berpikir bahwa mereka keturunan alien adalah karena Plato menyatakan bahwa bangsa Atlantis berasal dari keturunan Poseidon, Dewa Samudera Yunani (ini berlaku bagi mereka yang mempercayai teori bahwa dewa-dewa masa purba adalah alien).
Tapi menariknya, jika kita meneliti kisah-kisah legenda masa purba dari Cina kuno, Sumeria, Mesir, Yunani dan bahkan Indonesia, kita juga akan menemukan legenda yang menceritakan bahwa mereka adalah keturunan langsung para Dewa. Jadi saya menganggap, Legenda Atlantis tidak jauh berbeda dengan legenda suku bangsa lainnya. (Maaf untuk penggemar Atlantis)
Tapi ada banyak hal menarik yang bisa dipelajari dari kisah Atlantis. Dan bagi yang belum mengetahuinya, di bawah ini saya sertakan deskripsi singkat mengenai Atlantis.
Potongan-potongan kalimat ini saya terjemahkan dari Timaeus dan Critias versi Inggris terjemahan Benjamin Jowett. Kalian juga dapat mendownloadnya sendiri dengan mengklik link sumber di akhir tulisan ini.
Timaeus dan Critias adalah sebuah buku yang ditulis dalam rupa dialog yang terjadi antara Timaeus, Critias, Hermocrates dan Socrates. Dalam buku itu, kisah Atlantis diceritakan oleh Critias yang mendengar kisah itu dari kakeknya yang juga bernama Critias. Sedangkan Critias (sang kakek) mendengarnya dari Solon. Dan Solon mendengarnya dari para pendeta Mesir.
Timaeus hanya sedikit menyinggung soal Atlantis. Sedangkan Critias lebih banyak mendeskripsikan Atlantis. Namun, Critias sepertinya belum diselesaikan oleh Plato sehingga kita hanya mendapat sepenggal kisah Atlantis. Tapi paling tidak cukup untuk mengambil pelajaran dari bangsa yang luar biasa ini.
Lokasi Atlantis
“Kekuatan ini datang dari samudera Atlantik. Pada waktu itu, samudera Atlantik dapat dilayari dan ada sebuah pulau yang terletak di hadapan selat yang engkau sebut pilar-pilar Herkules. Pulau itu lebih luas dibandingkan dengan gabungan Libya dan Asia dan pilar-pilar ini juga merupakan pintu masuk ke pulau-pulau lain di sekitarnya, dan dari pulau-pulau itu engkau dapat sampai ke seluruh benua yang menjadi pembatas laut Atlantik. Laut yang ada di dalam pilar-pilar Herkules hanyalah seperti sebuah pelabuhan yang memiliki pintu masuk sempit. Namun laut yang di luarnya adalah laut yang sesungguhnya, dan benua yang mengelilinginya dapat disebut benua tanpa batas. Di wilayah Atlantis ini, ada sebuah kerajaan besar yang memerintah keseluruhan pulau dan pulau lain disekitarnya serta sebagian wilayah di benua lainnya” (Timaeus)
Asal mula bangsa Atlantis
“Sebelumnya aku telah berbicara mengenai pembagian wilayah yang diadakan bagi para dewa dan bagaimana mereka tersebar ke seluruh dunia dalam proporsi yang berbeda-beda. Dan Poseidon, menerima bagiannya, yaitu pulau Atlantis.” (Critias)
“Di tengah-tengah pulau itu ada sebuah dataran yang dianggap terbaik dan memiliki tanah yang subur. Di situ ada sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi di masing sisi-sisinya. Di gunung itu tinggal seorang pria fana bernama Evenor yang memiliki seorang istri bernama Leucippe. Mereka memiliki satu anak perempuan bernama Cleito. Ketika Cleito telah dewasa, ayah dan ibunya meninggal dunia. Poseidon jatuh cinta dan bersetubuh dengannya.” (Critias)
Karakteristik Tanah Atlantis
“Poseidon lalu memecahkan tanah di sekitar bukit tempat tinggal Cleito sehingga bukit itu terpisah dari dataran lain. Bukit itu sekarang dikelilingi oleh laut yang berbentuk lingkaran. Poseidon membuat dua bagian daratan seperti ini sehingga jumlahnya menjadi dua daratan yang dikelilingi tiga wilayah perairan.” (Critias)
“Masing-masing daratan memiliki sirkumferen yang berjarak sama dari tengah pulau tersebut. Jadi tidak ada satu orang dan satu kapalpun yang dapat mencapai pulau itu. Poseidon lalu membuat dua mata air di tengah-tengah pulau, satu air hangat dan satu lagi air dingin. ia juga membuat berbagai macam makanan muncul dari tanah yang subur.” (Critias)
Nenek Moyang bangsa Atlantis
“Poseidon dan Cleito memiliki lima pasang anak kembar laki-laki. Ia lalu membagi pulau Atlantis menjadi sepuluh bagian. Ia memberikan kepada anak tertua dari pasangan kembar pertama tempat kediaman ibu mereka dan wilayah yang mengelilinginya yang merupakan tanah terluas dan terbaik. Ia juga menjadikannya raja atas saudara-saudaranya. Poseidon memberi nama anak itu Atlas. Dan karenanya seluruh pulau dan samudera itu disebut Atlantik.” (Critias)
Kemakmuran Bangsa Atlantis
“Tanah Atlantis adalah tanah yang terbaik di dunia dan karenanya mampu menampung pasukan dalam jumlah besar.” (Critias)
“Tanah itu juga mendapatkan keuntungan dari curah hujan tahunan, memiliki persediaan yang melimpah di semua tempat.” (Critias)
“Orichalcum bisa digali di banyak wilayah di pulau itu. Pada masa itu Orichalcum lebih berharga dibanding benda berharga apapun, kecuali emas. Di pulau itu juga banyak terdapat kayu untuk pekerjaan para tukang kayu dan cukup banyak persediaan untuk hewan-hewan ternak ataupun hewan liar, yang hidup di sungai ataupun darat, yang hidup di gunung ataupun dataran. Bahkan di pulau itu juga terdapat banyak gajah” (Critias)
Struktur Masyarakat Atlantis
“Pada masa itu, wilayah Atlantis didiami oleh berbagai kelas masyarakat. Ada tukang batu, tukang kayu, ada suami-suami dan para prajurit. Bagi para prajurit, mereka mendapat wilayah sendiri dan semua keperluan untuk kehidupan dan pendidikan disediakan dengan berlimpah. Mereka tidak pernah menganggap bahwa kepunyaan mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka menganggapnya sebagai kepunyaan bersama. Mereka juga tidak pernah menuntut makanan lebih banyak dari yang dibutuhkan.” (Critias)
“Para prajurit ini tinggal di sekitar kuil Athena dan Hephaestus di puncak bukit. Di tempat itu mereka kemudian membuat pagar untuk melindungi tempat itu. Di sebelah utara, mereka membangun ruangan untuk makan di musim dingin dan membuat bangunan-bangunan yang dapat digunakan untuk kebutuhan bersama.” (Critias)
“Mereka tidak memuja emas dan perak karena bagi mereka, semua itu tidak ada gunanya. mereka juga membangun rumah sederhana dimana anak-anak mereka dapat bertumbuh.” (Critias)
‘Inilah cara mereka hidup, mereka menjadi penjaga kaum mereka sendiri dan menjadi pemimpin bagi seluruh kaum Helenis yang dengan sukarela menjadi pengikut mereka. Lalu mereka juga menjaga jumlah perempuan dan laki-laki dalam jumlah yang sama untuk berjaga-jaga bila terjadi perang. Dengan cara inilah mereka mengelola wilayah mereka dan seluruh wilayah Hellas dengan adil. Atlantis menjadi sangat termashyur di seluruh Eropa dan Asia karena ketampanan dan kebaikan hati para penduduknya.” (Critias)
Teknologi Atlantis
“Mereka membangun kuil, istana dan pelabuhan-pelabuhan. Mereka juga mengatur seluruh wilayah dengan susunan sebagai berikut : pertama mereka membangun jembatan untuk menghubungkan wilayah air dengan daratan yang mengelilingi kota kuno. Lalu membuat jalan dari dan ke arah istana. Mereka membangun istana di tempat kediaman dewa-dewa dan nenek moyang mereka yang terus dipelihara oleh generasi berikutnya. Setiap raja menurunkan kemampuannya yang luar biasa kepada raja berikutnya hingga mereka mampu membangun bangunan yang luar biasa besar dan indah.” (Critias)
“Dan mereka membangun sebuah kanal selebar 300 kaki dengan kedalaman 100 kaki dan panjang 50 stadia (9 km). Mereka juga membuat jalan masuk yang cukup besar untuk dilewati bahkan oleh kapal terbesar dan Lewat kanal ini mereka dapat berlayar menuju zona terluar.” (Critias)
Kehancuran Pulau Atlantis
“9.000 tahun adalah jumlah tahun yang telah berlangsung sejak perang yang terjadi antara mereka yang berdiam di luar pilar-pilar Herkules dengan mereka yang berdiam di dalamnya. Perang inilah yang akan aku deskripsikan.” (Critias)
“Pasukan yang satu dipimpin oleh kota-kota Athena. Di pihak lain, pasukannya dipimpin langsung oleh raja-raja dari Atlantis, yaitu seperti yang telah aku jelaskan, sebuah pulau yang lebih besar dibanding gabungan Libya dan Asia, yang kemudian dihancurkan oleh sebuah gempa bumi dan menjadi tumpukan lumpur yang menjadi penghalang bagi para penjelajah yang berlayar ke bagian samudera yang lain.” (Critias)
“Banyak air bah yang telah terjadi selama 9.000 tahun, yaitu jumlah tahun yang telah terjadi ketika aku berbicara. Dan selama waktu itu juga telah terjadi banyak perubahan. Tidak pernah terjadi dalam sejarah begitu banyak akumulasi tanah yang jatuh dari pegunungan di satu wilayah. Namun tanah telah berjatuhan dan menimbun wilayah Atlantis dan menutupinya dari pandangan mata.” (Critias)
“Karena hanya dalam semalam, hujan yang luar biasa lebat menyapu bumi dan pada saat yang bersamaan terjadi gempa bumi. Lalu muncul air bah yang menggenang seluruh wilayah.” (Critias)
“Namun sesudah itu, muncul gempa bumi dan banjir yang dashyat. Dan dalam satu hari satu malam, semua penduduknya tenggelam ke dalam perut bumi dan pulau Atlantis lenyap ke dalam samudera luas. Dan karena alasan inilah, bagian samudera disana menjadi tidak dapat dilewati dan dijelajahi karena ada tumpukan lumpur yang diakibatkan oleh kehancuran pulau tesebut.” (Timaeus)
Penutup – Pelajaran dari Atlantis
“Selama banyak generasi, karakter yang mulia hidup di dalam diri mereka, mereka patuh kepada hukum dan memiliki ketertarikan yang kuat kepada dewa. Mereka memiliki jalan hidup yang baik, menggabungkan kelemahlembutan dengan kebijaksanaan di dalam berbagai aspek kehidupan dan dalam hubungannya dengan sesama.” (Critias)
“Mereka tidak mau mengangkat senjata melawan sesamanya, dan mereka akan segera bergegas menolong rajanya ketika ada usaha untuk menggulingkannya. Mereka menolak segala kejahatan dan hanya melakukan kebaikan. Mereka hanya menaruh sedikit perhatian untuk kehidupan mereka sendiri. Mereka menganggap remeh harta benda emas dan perak yang sepertinya hanya menjadi beban bagi mereka.” (Critias)
“Bahkan ketika mereka berkelimpahan di dalam kemewahan, mata hati mereka tidak dibutakan olehnya. Mereka sadar bahwa kekayaan mereka akan bertambah oleh perbuatan baik dan persahabatan antara satu dengan yang lain yang juga disertai dengan penghormatan antara sesama. Karakter-karakter semacam itu terus bertumbuh di antara mereka.” (Critias)
“Namun, karakter-karakter mulia tersebut mulai memudar dan menjadi terlalu sering dikompromikan. Mereka bercampur dengan sifat-sifat duniawi, dan sifat itu kemudian menjadi pengendali. Karena itu mereka tidak mampu lagi menanggung kekayaan yang mereka miliki. Mereka mulai berperilaku tidak sepantasnya dan mata mereka menjadi rabun karena mereka telah kehilangan harta mereka yang paling berharga.” (Critias)
“Zeus, raja para dewa yang memerintah berdasarkan hukum dan mampu melihat perbuatan-perbuatan jahat yang mereka lakukan mulai mencanangkan hukuman bagi ras yang terhormat itu supaya mereka dapat disadarkan dan dimurnikan. Lalu ia mulai mengumpulkan para dewa dari tempat kediaman masing-masing. Setelah mereka semua berkumpul, Zeus berkata : …..” (Critias)
Dan dengan kalimat itulah Critias berakhir, tidak terselesaikan. Jadi kita tidak akan pernah tahu apa yang ingin dikatakan oleh Zeus. Tapi bahkan walaupun buku ini tidak pernah terselesaikan, pengaruhnya terhadap umat manusia jauh lebih besar dibandingkan dengan ribuan buku lainnya.
“Masing-masing daratan memiliki sirkumferen yang berjarak sama dari tengah pulau tersebut. Jadi tidak ada satu orang dan satu kapalpun yang dapat mencapai pulau itu. Poseidon lalu membuat dua mata air di tengah-tengah pulau, satu air hangat dan satu lagi air dingin. ia juga membuat berbagai macam makanan muncul dari tanah yang subur.” (Critias)
Nenek Moyang bangsa Atlantis
“Poseidon dan Cleito memiliki lima pasang anak kembar laki-laki. Ia lalu membagi pulau Atlantis menjadi sepuluh bagian. Ia memberikan kepada anak tertua dari pasangan kembar pertama tempat kediaman ibu mereka dan wilayah yang mengelilinginya yang merupakan tanah terluas dan terbaik. Ia juga menjadikannya raja atas saudara-saudaranya. Poseidon memberi nama anak itu Atlas. Dan karenanya seluruh pulau dan samudera itu disebut Atlantik.” (Critias)
Kemakmuran Bangsa Atlantis
“Tanah Atlantis adalah tanah yang terbaik di dunia dan karenanya mampu menampung pasukan dalam jumlah besar.” (Critias)
“Tanah itu juga mendapatkan keuntungan dari curah hujan tahunan, memiliki persediaan yang melimpah di semua tempat.” (Critias)
“Orichalcum bisa digali di banyak wilayah di pulau itu. Pada masa itu Orichalcum lebih berharga dibanding benda berharga apapun, kecuali emas. Di pulau itu juga banyak terdapat kayu untuk pekerjaan para tukang kayu dan cukup banyak persediaan untuk hewan-hewan ternak ataupun hewan liar, yang hidup di sungai ataupun darat, yang hidup di gunung ataupun dataran. Bahkan di pulau itu juga terdapat banyak gajah” (Critias)
Struktur Masyarakat Atlantis
“Pada masa itu, wilayah Atlantis didiami oleh berbagai kelas masyarakat. Ada tukang batu, tukang kayu, ada suami-suami dan para prajurit. Bagi para prajurit, mereka mendapat wilayah sendiri dan semua keperluan untuk kehidupan dan pendidikan disediakan dengan berlimpah. Mereka tidak pernah menganggap bahwa kepunyaan mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka menganggapnya sebagai kepunyaan bersama. Mereka juga tidak pernah menuntut makanan lebih banyak dari yang dibutuhkan.” (Critias)
“Para prajurit ini tinggal di sekitar kuil Athena dan Hephaestus di puncak bukit. Di tempat itu mereka kemudian membuat pagar untuk melindungi tempat itu. Di sebelah utara, mereka membangun ruangan untuk makan di musim dingin dan membuat bangunan-bangunan yang dapat digunakan untuk kebutuhan bersama.” (Critias)
“Mereka tidak memuja emas dan perak karena bagi mereka, semua itu tidak ada gunanya. mereka juga membangun rumah sederhana dimana anak-anak mereka dapat bertumbuh.” (Critias)
‘Inilah cara mereka hidup, mereka menjadi penjaga kaum mereka sendiri dan menjadi pemimpin bagi seluruh kaum Helenis yang dengan sukarela menjadi pengikut mereka. Lalu mereka juga menjaga jumlah perempuan dan laki-laki dalam jumlah yang sama untuk berjaga-jaga bila terjadi perang. Dengan cara inilah mereka mengelola wilayah mereka dan seluruh wilayah Hellas dengan adil. Atlantis menjadi sangat termashyur di seluruh Eropa dan Asia karena ketampanan dan kebaikan hati para penduduknya.” (Critias)
Teknologi Atlantis
“Mereka membangun kuil, istana dan pelabuhan-pelabuhan. Mereka juga mengatur seluruh wilayah dengan susunan sebagai berikut : pertama mereka membangun jembatan untuk menghubungkan wilayah air dengan daratan yang mengelilingi kota kuno. Lalu membuat jalan dari dan ke arah istana. Mereka membangun istana di tempat kediaman dewa-dewa dan nenek moyang mereka yang terus dipelihara oleh generasi berikutnya. Setiap raja menurunkan kemampuannya yang luar biasa kepada raja berikutnya hingga mereka mampu membangun bangunan yang luar biasa besar dan indah.” (Critias)
“Dan mereka membangun sebuah kanal selebar 300 kaki dengan kedalaman 100 kaki dan panjang 50 stadia (9 km). Mereka juga membuat jalan masuk yang cukup besar untuk dilewati bahkan oleh kapal terbesar dan Lewat kanal ini mereka dapat berlayar menuju zona terluar.” (Critias)
Kehancuran Pulau Atlantis
“9.000 tahun adalah jumlah tahun yang telah berlangsung sejak perang yang terjadi antara mereka yang berdiam di luar pilar-pilar Herkules dengan mereka yang berdiam di dalamnya. Perang inilah yang akan aku deskripsikan.” (Critias)
“Pasukan yang satu dipimpin oleh kota-kota Athena. Di pihak lain, pasukannya dipimpin langsung oleh raja-raja dari Atlantis, yaitu seperti yang telah aku jelaskan, sebuah pulau yang lebih besar dibanding gabungan Libya dan Asia, yang kemudian dihancurkan oleh sebuah gempa bumi dan menjadi tumpukan lumpur yang menjadi penghalang bagi para penjelajah yang berlayar ke bagian samudera yang lain.” (Critias)
“Banyak air bah yang telah terjadi selama 9.000 tahun, yaitu jumlah tahun yang telah terjadi ketika aku berbicara. Dan selama waktu itu juga telah terjadi banyak perubahan. Tidak pernah terjadi dalam sejarah begitu banyak akumulasi tanah yang jatuh dari pegunungan di satu wilayah. Namun tanah telah berjatuhan dan menimbun wilayah Atlantis dan menutupinya dari pandangan mata.” (Critias)
“Karena hanya dalam semalam, hujan yang luar biasa lebat menyapu bumi dan pada saat yang bersamaan terjadi gempa bumi. Lalu muncul air bah yang menggenang seluruh wilayah.” (Critias)
“Namun sesudah itu, muncul gempa bumi dan banjir yang dashyat. Dan dalam satu hari satu malam, semua penduduknya tenggelam ke dalam perut bumi dan pulau Atlantis lenyap ke dalam samudera luas. Dan karena alasan inilah, bagian samudera disana menjadi tidak dapat dilewati dan dijelajahi karena ada tumpukan lumpur yang diakibatkan oleh kehancuran pulau tesebut.” (Timaeus)
Penutup – Pelajaran dari Atlantis
“Selama banyak generasi, karakter yang mulia hidup di dalam diri mereka, mereka patuh kepada hukum dan memiliki ketertarikan yang kuat kepada dewa. Mereka memiliki jalan hidup yang baik, menggabungkan kelemahlembutan dengan kebijaksanaan di dalam berbagai aspek kehidupan dan dalam hubungannya dengan sesama.” (Critias)
“Mereka tidak mau mengangkat senjata melawan sesamanya, dan mereka akan segera bergegas menolong rajanya ketika ada usaha untuk menggulingkannya. Mereka menolak segala kejahatan dan hanya melakukan kebaikan. Mereka hanya menaruh sedikit perhatian untuk kehidupan mereka sendiri. Mereka menganggap remeh harta benda emas dan perak yang sepertinya hanya menjadi beban bagi mereka.” (Critias)
“Bahkan ketika mereka berkelimpahan di dalam kemewahan, mata hati mereka tidak dibutakan olehnya. Mereka sadar bahwa kekayaan mereka akan bertambah oleh perbuatan baik dan persahabatan antara satu dengan yang lain yang juga disertai dengan penghormatan antara sesama. Karakter-karakter semacam itu terus bertumbuh di antara mereka.” (Critias)
“Namun, karakter-karakter mulia tersebut mulai memudar dan menjadi terlalu sering dikompromikan. Mereka bercampur dengan sifat-sifat duniawi, dan sifat itu kemudian menjadi pengendali. Karena itu mereka tidak mampu lagi menanggung kekayaan yang mereka miliki. Mereka mulai berperilaku tidak sepantasnya dan mata mereka menjadi rabun karena mereka telah kehilangan harta mereka yang paling berharga.” (Critias)
“Zeus, raja para dewa yang memerintah berdasarkan hukum dan mampu melihat perbuatan-perbuatan jahat yang mereka lakukan mulai mencanangkan hukuman bagi ras yang terhormat itu supaya mereka dapat disadarkan dan dimurnikan. Lalu ia mulai mengumpulkan para dewa dari tempat kediaman masing-masing. Setelah mereka semua berkumpul, Zeus berkata : …..” (Critias)
Dan dengan kalimat itulah Critias berakhir, tidak terselesaikan. Jadi kita tidak akan pernah tahu apa yang ingin dikatakan oleh Zeus. Tapi bahkan walaupun buku ini tidak pernah terselesaikan, pengaruhnya terhadap umat manusia jauh lebih besar dibandingkan dengan ribuan buku lainnya.
“Masing-masing daratan memiliki sirkumferen yang berjarak sama dari tengah pulau tersebut. Jadi tidak ada satu orang dan satu kapalpun yang dapat mencapai pulau itu. Poseidon lalu membuat dua mata air di tengah-tengah pulau, satu air hangat dan satu lagi air dingin. ia juga membuat berbagai macam makanan muncul dari tanah yang subur.” (Critias)
Nenek Moyang bangsa Atlantis
“Poseidon dan Cleito memiliki lima pasang anak kembar laki-laki. Ia lalu membagi pulau Atlantis menjadi sepuluh bagian. Ia memberikan kepada anak tertua dari pasangan kembar pertama tempat kediaman ibu mereka dan wilayah yang mengelilinginya yang merupakan tanah terluas dan terbaik. Ia juga menjadikannya raja atas saudara-saudaranya. Poseidon memberi nama anak itu Atlas. Dan karenanya seluruh pulau dan samudera itu disebut Atlantik.” (Critias)
Kemakmuran Bangsa Atlantis
“Tanah Atlantis adalah tanah yang terbaik di dunia dan karenanya mampu menampung pasukan dalam jumlah besar.” (Critias)
“Tanah itu juga mendapatkan keuntungan dari curah hujan tahunan, memiliki persediaan yang melimpah di semua tempat.” (Critias)
“Orichalcum bisa digali di banyak wilayah di pulau itu. Pada masa itu Orichalcum lebih berharga dibanding benda berharga apapun, kecuali emas. Di pulau itu juga banyak terdapat kayu untuk pekerjaan para tukang kayu dan cukup banyak persediaan untuk hewan-hewan ternak ataupun hewan liar, yang hidup di sungai ataupun darat, yang hidup di gunung ataupun dataran. Bahkan di pulau itu juga terdapat banyak gajah” (Critias)
Struktur Masyarakat Atlantis
“Pada masa itu, wilayah Atlantis didiami oleh berbagai kelas masyarakat. Ada tukang batu, tukang kayu, ada suami-suami dan para prajurit. Bagi para prajurit, mereka mendapat wilayah sendiri dan semua keperluan untuk kehidupan dan pendidikan disediakan dengan berlimpah. Mereka tidak pernah menganggap bahwa kepunyaan mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka menganggapnya sebagai kepunyaan bersama. Mereka juga tidak pernah menuntut makanan lebih banyak dari yang dibutuhkan.” (Critias)
“Para prajurit ini tinggal di sekitar kuil Athena dan Hephaestus di puncak bukit. Di tempat itu mereka kemudian membuat pagar untuk melindungi tempat itu. Di sebelah utara, mereka membangun ruangan untuk makan di musim dingin dan membuat bangunan-bangunan yang dapat digunakan untuk kebutuhan bersama.” (Critias)
“Mereka tidak memuja emas dan perak karena bagi mereka, semua itu tidak ada gunanya. mereka juga membangun rumah sederhana dimana anak-anak mereka dapat bertumbuh.” (Critias)
‘Inilah cara mereka hidup, mereka menjadi penjaga kaum mereka sendiri dan menjadi pemimpin bagi seluruh kaum Helenis yang dengan sukarela menjadi pengikut mereka. Lalu mereka juga menjaga jumlah perempuan dan laki-laki dalam jumlah yang sama untuk berjaga-jaga bila terjadi perang. Dengan cara inilah mereka mengelola wilayah mereka dan seluruh wilayah Hellas dengan adil. Atlantis menjadi sangat termashyur di seluruh Eropa dan Asia karena ketampanan dan kebaikan hati para penduduknya.” (Critias)
Teknologi Atlantis
“Mereka membangun kuil, istana dan pelabuhan-pelabuhan. Mereka juga mengatur seluruh wilayah dengan susunan sebagai berikut : pertama mereka membangun jembatan untuk menghubungkan wilayah air dengan daratan yang mengelilingi kota kuno. Lalu membuat jalan dari dan ke arah istana. Mereka membangun istana di tempat kediaman dewa-dewa dan nenek moyang mereka yang terus dipelihara oleh generasi berikutnya. Setiap raja menurunkan kemampuannya yang luar biasa kepada raja berikutnya hingga mereka mampu membangun bangunan yang luar biasa besar dan indah.” (Critias)
“Dan mereka membangun sebuah kanal selebar 300 kaki dengan kedalaman 100 kaki dan panjang 50 stadia (9 km). Mereka juga membuat jalan masuk yang cukup besar untuk dilewati bahkan oleh kapal terbesar dan Lewat kanal ini mereka dapat berlayar menuju zona terluar.” (Critias)
Kehancuran Pulau Atlantis
“9.000 tahun adalah jumlah tahun yang telah berlangsung sejak perang yang terjadi antara mereka yang berdiam di luar pilar-pilar Herkules dengan mereka yang berdiam di dalamnya. Perang inilah yang akan aku deskripsikan.” (Critias)
“Pasukan yang satu dipimpin oleh kota-kota Athena. Di pihak lain, pasukannya dipimpin langsung oleh raja-raja dari Atlantis, yaitu seperti yang telah aku jelaskan, sebuah pulau yang lebih besar dibanding gabungan Libya dan Asia, yang kemudian dihancurkan oleh sebuah gempa bumi dan menjadi tumpukan lumpur yang menjadi penghalang bagi para penjelajah yang berlayar ke bagian samudera yang lain.” (Critias)
“Banyak air bah yang telah terjadi selama 9.000 tahun, yaitu jumlah tahun yang telah terjadi ketika aku berbicara. Dan selama waktu itu juga telah terjadi banyak perubahan. Tidak pernah terjadi dalam sejarah begitu banyak akumulasi tanah yang jatuh dari pegunungan di satu wilayah. Namun tanah telah berjatuhan dan menimbun wilayah Atlantis dan menutupinya dari pandangan mata.” (Critias)
“Karena hanya dalam semalam, hujan yang luar biasa lebat menyapu bumi dan pada saat yang bersamaan terjadi gempa bumi. Lalu muncul air bah yang menggenang seluruh wilayah.” (Critias)
“Namun sesudah itu, muncul gempa bumi dan banjir yang dashyat. Dan dalam satu hari satu malam, semua penduduknya tenggelam ke dalam perut bumi dan pulau Atlantis lenyap ke dalam samudera luas. Dan karena alasan inilah, bagian samudera disana menjadi tidak dapat dilewati dan dijelajahi karena ada tumpukan lumpur yang diakibatkan oleh kehancuran pulau tesebut.” (Timaeus)
Penutup – Pelajaran dari Atlantis
“Selama banyak generasi, karakter yang mulia hidup di dalam diri mereka, mereka patuh kepada hukum dan memiliki ketertarikan yang kuat kepada dewa. Mereka memiliki jalan hidup yang baik, menggabungkan kelemahlembutan dengan kebijaksanaan di dalam berbagai aspek kehidupan dan dalam hubungannya dengan sesama.” (Critias)
“Mereka tidak mau mengangkat senjata melawan sesamanya, dan mereka akan segera bergegas menolong rajanya ketika ada usaha untuk menggulingkannya. Mereka menolak segala kejahatan dan hanya melakukan kebaikan. Mereka hanya menaruh sedikit perhatian untuk kehidupan mereka sendiri. Mereka menganggap remeh harta benda emas dan perak yang sepertinya hanya menjadi beban bagi mereka.” (Critias)
“Bahkan ketika mereka berkelimpahan di dalam kemewahan, mata hati mereka tidak dibutakan olehnya. Mereka sadar bahwa kekayaan mereka akan bertambah oleh perbuatan baik dan persahabatan antara satu dengan yang lain yang juga disertai dengan penghormatan antara sesama. Karakter-karakter semacam itu terus bertumbuh di antara mereka.” (Critias)
“Namun, karakter-karakter mulia tersebut mulai memudar dan menjadi terlalu sering dikompromikan. Mereka bercampur dengan sifat-sifat duniawi, dan sifat itu kemudian menjadi pengendali. Karena itu mereka tidak mampu lagi menanggung kekayaan yang mereka miliki. Mereka mulai berperilaku tidak sepantasnya dan mata mereka menjadi rabun karena mereka telah kehilangan harta mereka yang paling berharga.” (Critias)
“Zeus, raja para dewa yang memerintah berdasarkan hukum dan mampu melihat perbuatan-perbuatan jahat yang mereka lakukan mulai mencanangkan hukuman bagi ras yang terhormat itu supaya mereka dapat disadarkan dan dimurnikan. Lalu ia mulai mengumpulkan para dewa dari tempat kediaman masing-masing. Setelah mereka semua berkumpul, Zeus berkata : …..” (Critias)
Dan dengan kalimat itulah Critias berakhir, tidak terselesaikan. Jadi kita tidak akan pernah tahu apa yang ingin dikatakan oleh Zeus. Tapi bahkan walaupun buku ini tidak pernah terselesaikan, pengaruhnya terhadap umat manusia jauh lebih besar dibandingkan dengan ribuan buku lainnya.
Rumah Bolon merupakan Rumah Adat dari Sumatera Utara.Rumah ini berukir dengan pahatan yang indah.Orang Batak tinggal di rumah ini.Satu Rumah Bolon biasanya ditempati oleh beberapa keluarga sekaligus.Konon,Sandean Raja diyakini sebagai nenek moyang masyarakat Batak Masyarakat Batak menganggap bahwa pernikahan yang ideal adalah  seorang pria dengan anak saudara laki-laki ibunya.
Dahulu,di Sumatera Utara terdapat dua buah kerajaan yang bernama Kerajaan Timur dan Kerajaan Barat.Raja dari Kerajaan Timur kemudian menikahi Adik Perempuan dari Kerajaan Barat dan dikaruniai seorang anak perempuan yang dinamakan Dayang Bandir.Tujuh tahun kemudian,mereka melahirkan lagi seorang anak laki-laki bernama Sandean Raja.

Tetapi,ketika anak-anak mereka masih kecil,Raja dari Kerajaan Timur meninggal.Karena Sandean Raja masih kecil untuk menjadi raja,akhirnya diadakanlah sidang kerajaan.Dalam sidang itu,Paman Karaeng diangkat menjadi Raja sementara Kerajaan Timur.Paman Karaeng memanglah ingin menguasai Kerajaan Timur selamanya dari dulu.Karena itu,ia mengambil benda-benda pusaka Kerajaan Timur.

Dayang Bandir mengetahui niat jahat Paman Karaeng.Ia lalu menyembunyikan benda-benda pusaka Kerajaan Timur agar tidak diambil Paman Karaeng karena yang pantas memilikinya adalah adiknya,Sandean Raja,sang penerus Kerajaan Timur.

Paman Karaeng kaget ketika ia tidak menemukan benda-benda pusaka Kerajaan Timur pada tempatnya.Ia mengetahui bahwa Dayang Bandirlah yang menyembunyikannya.Paman Karaeng lalu membawa Dayang bandir dan Sandean Raja ke hutan dan mengikat Dayang Bandir di atas pohon yang tinggi sehingga Sandean Raja tidak dapat menjangkaunya.Sandean Raja terjatuh berkali-kali dan terluka.

Dayang Bandir selalu menghibur Sandean Raja dari atas pohon.Dayang Bandir disiksa oleh Paman Karaeng tanpa diberi makan dan minum.Tubuhnya lemas diatas pohon,hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya.Sandean Raja pun kini hidup sendiri.Ruh Dayang Bandir selalu menemani Sandean Raja.Sandean Raja tumbuh menjadi pemuda yang cakap dan pemberani.

Sandean Raja berhasil keluar dari hutan dan pergi ke Kerajaan Barat untuk bertemu Raja Soma,adik kandung ibunya.Raja Soma merupakan seorang raja yang arif dan bijaksana,tak seperti Paman Karaeng.Setelah bertemu,Sandean Raja mengatakan kepada Raja Soma bahwa dirinya adalah putra dari Raja Kerajaan Timur.Raja Soma yang merupakan raja yang hati-hati tak langsung percaya bahwa Sandean Raja itu memang betul keponakannya,Sandean Raja karena terdengar kabar,bahwa Sandean Raja dan Dayang Bandir telah meninggal.
.

Raja Soma lalu mengajukan syarat kepada Sandean Raja,yaitu adalah memindahkan sebatang pohon dari hutan ke istana Kerajaan Barat agar Raja Soma percaya bahwa sang pemuda itu benar-benar Sandean Raja.“Pindahkanlah sebatang pohon dari hutan ke  istana ini agar aku percaya bahwa kamu adalah keponakanku”.Sandean Raja pun melakukannya. Sandean Raja berhasil memindahkan sebatang pohon ke istana Raja Soma.Raja Soma belum percaya.Ia mengajukan syarat yang kedua yaitu menebas hutan menjadi perladangan “Aku belum percaya denganmu.Karena itu,tebaslah hutan agar menjadi sebuah perladangan!”.Dalam waktu singkat,Sandean Raja berhasil melakukannya.

Raja Soma menjadi bingung.Ia kemudian mengajukan syarat ketiga yaitu harus membuatkan Rumah Bolon atau Istana Besar “Aku belum percaya denganmu.Untuk meyakinkanku,buatkanlah aku Rumah Bolon(Istana Besar)untukku!”.Sandean Raja berhasil mendirikan Rumah Bolon dalam waktu tiga hari.Raja Soma masih belum percaya.Ia kembali mengajukan syarat yaitu menunjukkan putrinya diantara gadis-gadis yang berada dalam ruangan yang gelap.Inilah syarat yang paling susah baginya.

Tiba-tiba,datang ruh Dayang Bandir menenangkannya.Sandean Raja lalu masuk kedalam ruangan yang gelap untuk menunjukkan sang putri raja diantara gadis-gadis yang ada.Dayang Bandir membantunya.Dan,akhirnya Sandean Raja berhasil melakukannya berkat bantuan kakaknya,Dayang Bandir.Raja Soma pun sekarang telah percaya bahwa pemuda itu adalah keponakannya,Sandean Raja.

Raja Soma lalu menikahkan putrinya dengan Sandean Raja.Sandean Raja lalu tinggal di Kerajaan Barat.Tetapi,ia teringat akan amanah ayahnya,yaitu menjadi penerus Kerajaan Timur.Sandean Raja lalu mengadakan perang dan menyerang Kerajaan Timur untuk menyingkirkan Paman Karaeng.Paman Karaeng akhirnya tewas.Sandean Raja berhasil menguasai Kerajaan Timur dengan bijaksana seperti ayahnya.
Aji Saka menceritakan seseorang yang pertama kali menciptakan susunan Huruf-huruf Jawa,yang ditulis di sebuah batu yang kemudian dinamakan Carakan.Susunan huruf itu adalah sebagai berikut:
ha-na-ca-ra-ka   da-ta-sa-wa-la   pa-dha-ja-ya-nya   ma-ga-ba-tha-nga
Ada Utusan   Pada Bertengkar   Sama Saktinya        Mati Bersama
Dahulu,di Jawa Tengah,berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Medang Kemulan.Raja dari Kerajaan itu dikenal sangat kejam karena sehari-hari ia memakan daging manusia.Tak ada yang berani menentang perintahnya.Raja itu bernama Prabu Dewata Cengkar.Setiap hari,Patih Jugul Muda selalu sibuk mencarikan manusia untuk dimakan oleh Prabu Dewata Cengkar.Para rakyat Medang Kamulan bila diminta untuk dimakan oleh sang raja pada lari berbondong-bondong karena takut.

Sedangkan di Desa Medang Kawit,hiduplah seorang pemuda yang tampan dan sakti mandraguna bernama Aji Saka.Ia selalu ditemani oleh dua pengawal setianya,yaitu Dora dan Sembada.Berita tentang kejahatan Prabu Dewata Cengkar sampai ke telinga Aji Saka.Aji Saka menjadi tidak tega kepada rakyat Medang Kemulan yang selalu menjadi makanan Prabu Dewata Cengkar.Ia pun pergi ke Kerajaan Medang Kemulan untuk menghentikan kekejaman tersebut.

Setibanya di Pegunungan Kendeng untuk singgah,Aji Saka menitipkan kerisnya kepada Sembada untuk dijaganya di Pegunungan Kendeng.Aji Saka berpesan jangan berikan kepada siapapun keris itu,karena nanti ia sendiri yang akan mengambilnya.”Baiklah tuanku Aji Saka,aku akan menjaga amanat yang tuan berikan kepada hamba”.Besok,Aji Saka akan melanjutkan perjalanannya ke Medang Kamulan.

Esok harinya,Aji Saka melanjutkan perjalanannya ke Medang Kemulan dengan ditemani oleh Dora,sedangkan Sembada menjaga kerisnya di Pegunungan Kendeng.Pada Saat itu,Patih Jugul Muda tidak menemukan Manusia untuk dimakan oleh Prabu Dewata Cengkar.Patih Jugul Muda menjadi bingung “Aduh,sekarang tidak ada lagi manusia yang bisa dimakan tuan Prabu Dewata Cengkar,bagaimana ini.Kalau aku pulang dengan tangan hampa,pasti raja akan marah”.

Pada Saat itu juga,datanglah Aji Saka menyerahkan diri untuk dimakan oleh Prabu Dewata Cengkar.Sang Patih Jugul Muda bingung dengan pengorbanan Aji Saka yang mau menjadi makanan sang Prabu karena orang-orang ketakutan bila diminta menjadi makanan sang Prabu “Mengapa kau rela mengorbankan dirimu sebagai makanan sang Prabu,tetapi bila yang lain mereka ketakutan bila diminta menjadi makanan sang Prabu?”.”Bawalah saja aku,aku akan menghentikan kekejaman rajamu itu”ujar Aji Saka.Setelah itu mereka berangkat ke istana.

Setibanya di istana,Aji Saka menyampaikan maksudnya untuk menjadi makanan sang Prabu.Tetapi,ia meminta satu permintaan “Apa permintaanmu?”tanya Prabu Dewata Cengkar.Ia meminta agar diberikan sebagian wilayah Kerajaan Medang Kemulan sebesar sorban ikat kepalanya.Sang Prabu menyetujuinya.Lalu,Aji Saka menggelar sorban ikat kepalanya di tanah.Tanpa disangka oleh orang-orang,ternyata Sorban Aji Saka itu besar sekali.Besarnya membentang dari istana,perkampungan,hutan,gunung,sampai lembah Ngarai.Karena itu,seluruh wilayah Medang Kemulan menjadi miliknya.Prabu Dewata Cengkar pun marah besar.Ia pun bertarung dengan Aji Saka.

Tiba-tiba,sorban Aji Saka melilit tubuh Prabu Dewata Cengkar.Meskipun bertubuh besar,Prabu Dewata Cengkar yang sudah meronta-ronta tidak bisa melepaskan diri.Ia pun ditenggelamkan ke Laut Selatan yang berombak besar dan tertelan oleh ombak.Para rakyat Medang Kemulan bersorak-sorai menyambut kemenangan Aji Saka dan mengangkat Aji Saka menjadi Raja Medang Kemulan.

Pada suatu hari,ia teringat akan kerisnya yang dijaga oleh Sembada.Ia pun menyuruh Dora untuk mengambilkan kerisnya yang dijaga oleh Sembada.

Setibanya di Pegunungan Kendeng,Dora bertemu dengan Sembada.Sebelum mengambil keris Aji Saka,mereka berdua berbincang-bincang terlebih dahulu.Lalu,mereka menyampaikan maksudnya untuk mengambil keris Aji Saka.

Sembada tidak mau memberikannya karena ia mengemban amanat Aji Saka agar menjaga kerisnya dan tidak memeberikannya kepada orang lain.Tetapi,Dora juga mengemban amanat untuk mengambilkan keris Aji Saka.Akhirnya,mereka bertengkar demi menjaga sebuah amanat.Mereka berdua akhirnya mati.

Aji Saka yang sudah menunggu lama menjadi bingung.Ia pun menyusul Dora ke Pegunungan Kendeng.Tetapi,ia melihat kedua pengawalnya mati demi mengemban sebuah amanat.Akhirnya,ia menulis susunan huruf Jawa di sebuah Batu yang kemudian dinamakan Carakan.
Legenda Rakyat Bali
Pada jaman dulu di kerajaan Daha hiduplah seorang Brahmana yang benama Sidi Mantra yang sangat terkenal kesaktiannya. Sanghyang Widya atau Batara Guru menghadiahinya harta benda dan seorang istri yang cantik. Sesudah bertahun-tahun kawin, mereka mendapat seorang anak yang mereka namai Manik Angkeran.
Meskipun Manik Angkeran seorang pemuda yang gagah dan pandai namun dia mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu suka berjudi. Dia sering kalah sehingga dia terpaksa mempertaruhkan harta kekayaan orang tuanya, malahan berhutang pada orang lain. Karena tidak dapat membayar hutang, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya untuk berbuat sesuatu. Sidi Mantra berpuasa dan berdoa untuk memohon pertolongan dewa-dewa. Tiba-tiba dia mendengar suara, “Hai, Sidi Mantra, di kawah Gunung Agung ada harta karun yang dijaga seekor naga yang bernarna Naga Besukih. Pergilah ke sana dan mintalah supaya dia mau memberi sedikit hartanya.”
Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung dengan mengatasi segala rintangan. Sesampainya di tepi kawah Gunung Agung, dia duduk bersila. Sambil membunyikan genta dia membaca mantra dan memanggil nama Naga Besukih. Tidak lama kernudian sang Naga keluar. Setelah mendengar maksud kedatangan Sidi Mantra, Naga Besukih menggeliat dan dari sisiknya keluar emas dan intan. Setelah mengucapkan terima kasih, Sidi Mantra mohon diri. Semua harta benda yang didapatnya diberikan kepada Manik Angkeran dengan harapan dia tidak akan berjudi lagi. Tentu saja tidak lama kemudian, harta itu habis untuk taruhan. Manik Angkeran sekali lagi minta bantuan ayahnya. Tentu saja Sidi Mantra menolak untuk membantu anakya.
Manik Angkeran mendengar dari temannya bahwa harta itu didapat dari Gunung Agung. Manik Angkeran tahu untuk sampai ke sana dia harus membaca mantra tetapi dia tidak pernah belajar mengenai doa dan mantra. Jadi, dia hanya membawa genta yang dicuri dari ayahnya waktu ayahnya tidur.
Setelah sampai di kawah Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan gentanya. Bukan main takutnya ia waktu ia melihat Naga Besukih. Setelah Naga mendengar maksud kedatangan Manik Angkeran, dia berkata, “Akan kuberikan harta yang kau minta, tetapi kamu harus berjanji untuk mengubah kelakuanmu. Jangan berjudi lagi. Ingatlah akan hukum karma.”
Manik Angkeran terpesona melihat emas, intan, dan permata di hadapannya. Tiba-tiba ada niat jahat yang timbul dalam hatinya. Karena ingin mendapat harta lebih banyak, dengan secepat kilat dipotongnya ekor Naga Besukih ketika Naga beputar kembali ke sarangnya. Manik Angkeran segera melarikan diri dan tidak terkejar oleh Naga. Tetapi karena kesaktian Naga itu, Manik Angkeran terbakar menjadi abu sewaktu jejaknya dijilat sang Naga.
Mendengar kematian anaknya, kesedihan hati Sidi Mantra tidak terkatakan. Segera dia mengunjungi Naga Besukih dan memohon supaya anaknya dihidupkan kembali. Naga menyanggupinya asal ekornya dapat kembali seperti sediakala. Dengan kesaktiannya, Sidi Mantra dapat memulihkan ekor Naga. Setelah Manik Angkeran dihidupkan, dia minta maaf dan berjanji akan menjadi orang baik. Sidi Mantra tahu bahwa anaknya sudah bertobat tetapi dia juga mengerti bahwa mereka tidak lagi dapat hidup bersama.
“Kamu harus mulai hidup baru tetapi tidak di sini,” katanya. Dalam sekejap mata dia lenyap. Di tempat dia berdiri timbul sebuah sumber air yang makin lama makin besar sehingga menjadi laut. Dengan tongkatnya, Sidi Mantra membuat garis yang mernisahkan dia dengan anaknya. Sekarang tempat itu menjadi selat Bali yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Bali.
(SELESAI)
Gunung Brahma/Bromo merupakan sebuah gunung berapi yang terletak di provinsi Jawa Timur.Tingginya 2.392 Meter.Di Gunung Bromo,terdapat sebuah daerah yang bernama Tengger.Disana dilakukan sebuah upacara yang dilakukan oleh masyarakat Tengger dengan melakukan membuang sesajen kedalam kawah Gunung Bromo sebagai persembahan kepada Jaya Kusuma,anak dari Joko Seger dan Roro Anteng.Nama Upacara itu adalah Kasadha.Upacara ini dilakukan tiap tahun pada bulan Jawa Asyuro.Apakah yang dilakukan oleh Joko Seger sehingga Jaya Kusuma mau mengorbankan dirinya sebagai sesajen di kawah Gunung Bromo?Ikuti kisah Joko Seger dan Roro Anteng berikut ini
Alkisah,terdapat seseorang raja Majapahit yang meninggalkan negerinya bersama permaisurinya dan beberapa pengikutnya karena kalah melawan putranya sendiri.Mereka pergi ke lereng Gunung Bromo dan membangun sebuah rumah sederhana sebagai tempat tinggal mereka.Pada suatu hari,permaisuri melahirkan anak keduanya.Mantan Raja Majapahit yang gelisah menunggu istrinya melahirkan anaknya di luar rumah.Pada tengah malam,akhirnya anaknya berhasil dilahirkan.Anak yang dilahirkan itu perempuan.Sang Raja lalu melihat anaknya “Dinda,anak kita perempuan”.Tetapi,terdapat keanehan pada bayi itu karena bayi itu tidak menangis seperti bayi pada umumnya “Benarkah Adinda melahirkan,mengapa tidak ada suara tangisan bayi?”pikir sang permaisuri.

“Betul Adinda,anak kita telah lahir.Lihat,ia terlihat tenang,tidak menangis.Dia terlahir dengan normal dan sehat.Mukanya terlihat tampak bersinar.Karena ia terlihat tenang dan diam,maka aku akan menamakannya Roro Anteng”ucap Sang mantan Raja sembari menunjukkkan bayinya kepada istrinya.

Tidak jauh dari tempat itu,terdapat sebuah rumah sederhana yang ditinggali oleh sepasang suami istri.Sang Suami merupakan seorang Brahmana.Pada saat yang bersamaan,sang istri Brahmana melahirkan seorang bayi laki-laki.Bayi itu menangis dengan suara yang amat keras.Karena bayi itu menangis dengan suara yang amat keras,maka bayi itu dinamakan Joko Seger yang artinya laki-laki berbadan segar “Istriku,anak kita menangis dengan suara yang amat keras.Karena itu aku akan menamakan bayi ini Joko Seger”.

Tahun telah berlalu.Kedua anak itu tumbuh menjadi dewasa.Roro Anteng tumbuh menjadi gadis yang cantik,sedangkan Joko Seger tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan perkasa.Karena kecantikkan Roro Anteng,banyak pemuda yang datang untuk meminangnya.Tapi,tak satupun lamaran yang diterima olehnya karena dia telah menjalin kasih dengan Joko Seger dan ia berjanji tidak akan mau menyukai orang lain karena kesetiaan cintanya kepada Joko Seger.

Berita tentang kecantikan Roro Anteng sampai kepada seorang raksasa yang tinggal di hutan lereng Gunung Bromo yang bernama Kyai Bima.Mendengar kabar itu,ia langsung datang ke rumah tempat tinggal Roro Anteng untuk meminangnya “Hai Roro Anteng,apakah kamu mau menerima pinanganku?”.Roro Anteng dan keluarganya kebingungan.Bila tidak diterimanya,nanti dusun mereka akan dihancurkan olehnya beserta isinya.Joko Seger tidak bisa tak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak isa menandingi kesaktian Kyai Bima.Roro Anteng pun berpikir keras “Kalau aku tidak menerimanya,nanti Bima akan marah”.”Roro Anteng,jawablah pertanyaanku Roro!”ucap Kyai Bima.Akhirnya,Roro Anteng mendapat ide.

Ia menolak pinangan Kyai Bima dengan cara yang halus,yaitu mengajukan satu persyaratan kepada Kyai Bima.Syarat yang diajukannya itu ia pikir tidak akan bisa dilakukan oleh Kyai Bima. “Hai Bima,aku menerima pinanganmu dan menjadi istrimu!”.”Ha Ha Ha….Baiklah”ucap Kyai Bima dengan suaranya yang menggelegar.”Hai Bima,aku menerimanya,Tetapi aku mengajukan syarat kepadamu!”.”Apa syaratnya?”tanya Kyai Bima dengan suara yang keras.Roro Anteng yang mendengar suaranya menjadi gugup,tetapi ia berusaha agar tampak tenang.Roro Anteng kemudian berkata “Aku mau engkau untuk membuatkanku danau diatas Gunung Bromo itu,tetapi hanya dalam waktu semalam!”perintah Roro Anteng sambil menunjukkan tempat yang dimaksud.

“Ha Ha Ha…kalau itu maumu,aku akan melakukannya,itu sangat mudah bagiku!”jawab Kyai Bima dengan nada angkuh.”Tetapi,Bima,kau harus bisa menyelesaikannya sampai waktu ayam berkokok!”ucap Roro Anteng.Kyai Bima lalu pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Roro Anteng tadi untuk membuat danau di tempat itu.Dengan menggunakan batok (tempurung) kelapa yang besar,Kyai Bima dengan percaya diri dan mengumpulkan segenap kekuatannya mengeruk tanah.Hasil kerukan itu akan diisi air agar menjadi danau.Hanya beberapa kali kerukan,Kyai Bima berhasil membuat lubang besar.Kyai Bima mengeruk tanah tanpa mengenal lelah.Roro Anteng pun menjadi cemas melihat Kyai Bima sudah membuat lubang yang besar “Aduh,bagaimana ini,raksasa itu benar-benar sakti?Pasti nanti pagi danau itu sudah selesai.Bagaimana caranya agar aku dapat mengalahkannya?”.

Setelah lama berpikir,akhirnya ia menemukan ide.Ia membangunkan para penduduk desa,termasuk tetangga dan keluarganya.Lalu Roro Anteng menyuruh kaum perempuan untuk menumbuk padi di lesung,sedangkan kaum Laki-Laki ia suruh untuk membakar jerami disebelah timur agar kelihatan fajar telah terbit “Wahai saudara-saudaraku,aku meminta kalian agar menciptakan suasana pagi.Hai kaum perempuan,aku perintahkan kau untuk menumbuk padi.Dan kau kaum laki-laki,aku perintahkan engkau untuk mengumpulkan jerami dan dibakar disebelah Timur agar terlihat seperti matahari terbit”.”Baiklah Roro Anteng,kami akan melakukannya”.Lalu,kaum laki-laki dan perempuan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Roro Anteng.
Cahaya kemerah-merahan segera muncul dari arah Timur,disusul dengan suara lesung yang bersahutan.Ayam pun terbangun dan berkokok.Kyai Bima yang menyangka pagi sudah datang pun kesal karena pekerjaannya tidak selesai dan tidak bisa menikahi Roro Anteng “Sial!pagi sudah tiba.Sementara pekerjaanku tidak selesai.Aku tidak bisa menikahi Roro Anteng”seru Kyai Bima dengan kesal.Kyai Bima lalu meninggalkan tempat itu.Tempurung yang dipegangnya dilemparkan dan bertelungkup di tanah.Tempurung itu kemudian berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok.Jalan yang dilalui Kyai Bima berubah menjadi sebuah sungai yang sampai sekarang dapat dilihat di hutan pasir Gunung Batok.Sedangkan danau yang belum selesai dibuat oleh Kyai Bima berubah menjadi kawah yang sampai sekarang masih bisa dilihat di kawasan Gunung Bromo.

Roro Anteng dan Joko Seger menjadi senang.Tak berapa lama kemudian,mereka berdua menikah dan tetap tinggal di lereng Gunung Bromo.Mereka kemudian membuka desa baru.Desa itu kemudian mereka namakan dengan nama Tengger.Nama ini merupakan gabungan dari nama mereka berdua,Roro An(teng) dan Joko Se(ger).Mereka pun hidup bahagia.

Setelah bertahun-tahun menikah,mereka belum juga dikaruniai anak.Karena itu,terjadi keresahan di hati mereka berdua “Dinda,sebenarnya sudah bertahun-tahun kita menjadi suami istri,tetapi mengapa kita belum dikaruniai anak?Padahal kita sudah mencoba berbagai jenis obat”ucap Joko Seger.”Sabarlah Kanda,mungkin nanti kita akan dikaruniai anak.Janganlah cepat berputus asa.Serahkan saja semuanya kepada dewa”ucap istrinya untuk menenangkan hati suaminya.Joko Seger pun bersumpah “Aku bersumpah,bila kita dikaruniai 25 orang anak,salahsatu dari anak kita akan ku persembahkan sebagai sesajen di kawah Gunung Bromo!”.Setelah suaminya berucap seperti itu,tiba-tiba muncul api dari dalam tanah di kawah Gunung Bromo.Itu pertanda bahwa doa mereka didengar oleh Dewa.Mereka pun senang dan berterima kasih “Terima Kasih Dewa,terima kasih karena engkau telah mendengarkan permintaan kami.Kami akan menepati janji kami”.

Tak berapa lama kemudian setelah itu,Roro Anteng diketahui mengandung.Mereka bertambah senang dan bahagia karena saat yang ditunggu-tunggu tiba.Sembilan bulan kemudian,Roro Anteng melahirkan seorang bayi kembar laki-laki.Ada yang kembar dua,tiga,hingga anak mereka menjadi 25.Kebahagiaan mereka bertambah.Setelah itu,Roro Anteng tidak melahirkan lagi.Mereka mengasuh dan mendidik ke 25 anak mereka dengan ikhlas.Anak-anak mereka pun tumbuh menjadi dewasa.Nama anak yang paling bungsu adalah Jaya Kusuma.Karena terlena dalam kebahagiaan,Joko Seger menjadi lupa akan janjinya untuk mempersembahkan salahsatu anaknya untuk menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo.

Pada suatu malam,ketika Joko Seger tidur,Dewa menegurnya agar menepati janjinya untuk mempersembahkan salahsatu anaknya untuk menjadi sesajen di Gunung Bromo melalui mimpi “Wahai Joko Seger tepatilah janjimu untuk mempersembahkan salahsatu anakmu untuk menjadi sesajen di Gunung Bromo!”.Joko Seger pun tersentak kaget dan terbangun.”Aduh,bagaimana ini?Siapa diantara putra putriku yang harus aku persembahkan?Aku sangat menyayangi mereka semua”’Joko Seger yang masih dalam keadaan gelisah pun melanjutkan tidurnya

Pada Keesokan harinya,Saat pagi hari,Joko Seger bangun dari tidurnya.Joko Seger pun mulai gelisah karena ia belum menepati janjinya.Makin hari ia semakin gelisah karena belum menepati janjinya.Akhirnya ia ingin menceritakan semuanya kepada anak-anaknya “Apa aku harus membicarakan ini kepada anak-anakku?mudah-mudahan saja ada salahsatu dari mereka yang mau menjadi persembahan”.

Joko Seger dan isrinya kemudian mengumpulkan anak-anaknya dalam sebuah pertemuan keluarga.Ia menjelaskan janjinya yang pernah ia ucapkan “Anak-anakku,Ayah sebenarnya mempunyai sebuah janji yang melibatkan kalian”.”Janji apakah itu ayahku?”tanya anak-anaknya.”Sebelum kalian lahir,Ayah dan Ibumu ini sudah lama tidak dikaruniai anak.Padahal Ayah dan Ibumu ini sudah banyak berdoa dan berusaha.Karena Ayah dan Ibumu ini tidak juga dikaruniai anak,maka Ayah mengucapkan sebuah janji yaitu bila Anak ayah ada 25,salah satu dari mereka harus ada yang dipersembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo”jawab Joko Seger sambil menjelaskan.”Lalu,apakah yang melibatkan kami Ayahku?”tanya anak-anaknya.”Apakah salahsatu dari kalian ada yang mau menjadi persembahan di kawah Gunung Bromo?”tanya Sang Ayah.”Ayahandaku,apakah ayahanda tega mengorbankan anak ayahanda sendiri,mengapa ayah berjanji seperti itu?Apakah ayahanda tidak sayang dengan kami?”tanya salahsatu anaknya.

“Bukan begitu anakku,aku hanya ingin dikaruniai anak,sehingga ayahmu ini berjanji demi dikaruniai anak.Ayah itu sangat sayang dengan kalian semua,jadi ayah tidak tega untuk mempersembahkan salahsatu dari kamu semua menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo”ucap ayahnya kepada anak-anaknya.”Ampun Ayahanda,Ananda Pokoknya aku tidak mau menjadi persembahan di Gunung Bromo.Kami tidak ingin mati muda Ayahanda”ucap si Sulung.”Iya,kami tidak mau mati dibakar oleh panasnya kawah Gunung Bromo!”ucap putra-putrinya,kecuali si Jaya Kusuma.”Ayahanda,Ibunda,aku mau dipersembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo ayahanda,demi ketenangan ayahanda.Ananda sangat menginginkan bahwa Ayahanda itu bahagia.Biarlah Ananda yang dipersembahkan ke kawah Gunung Bromo”ucap si bungsu,Jaya Kusuma.Mendengar perkataan Kusuma,semuanya menjadi sedih.”Jaya Kusuma anakku,mengapa kamu berani untuk kami persembahkan menjadi sesajen di kawah Gunung Bromo?Sedangkan kakak-kakakmu tak berani melakukannya”ucap Joko Seger.”Ananda akan melakukan apa saja,termasuk dikorbankan,demi keselamatan penduduk Tengger dan Ayahanda,Ibunda,serta kakak-kakakku.Sekarang,ijinkanlah aku pergi ke kawah Gunung Bromo”ucap Jaya Kusuma.

Jaya Kesuma lalu berpamitan kepada kedua orangtuanya “Ayahanda,Ibunda,Ananda akan pergi ke kawah Gunung Bromo.Ananda hanya meminta restu dan doa kalian.Kirimlah hasil ladang ke Ananda dengan menceburkannya ke kawah Gunung Bromo pada setiap terang bulan,tanggal 14 bulan Kasadha.Ananda akan pergi ke kawah sekarang.”Tunggu Kusuma,kami akan ikut ke kawah dan mengajak semua penduduk mengantarmu ke kawah”ucap Joko Seger.Joko Seger lalu memanggil seluruh penduduk Tengger.Setelah itu,Joko Seger,keluarga,dan para penduduk Tengger beserta Jaya Kusuma pergi ke kawah Gunung Bromo.Setelah sampai,Jaya Kesuma menyampaikan pesan kepada rakyat Tengger “Aku akan menceburkan diri kedalam kawah demi ketentraman Rakyat Tengger disini.Kirimkanlah aku hasil ladang pada saat terang bulan,yaitu pada tanggal ke 14 bulan Kasadha.”ucap Jaya Kusuma.Setelah berucap seperti itu,ia menceburkan diri kedalam kawah Gunung Bromo.Tak ada rasa takut yang muncul dari wajahnya.”Jaya Kusuma….Anakku”seru ayahnya dari atas kawah.

Untuk mengenang peristiwa itu,para rakyat Tengger melakukan perintah yang pernah diucapkan Jaya Kusuma saat akan menceburkan diri kedalam kawah,yaitu mengirimkan hasil ladang pada tanggal ke 14 bulan Kasadha dengan menceburkannya kedalam kawah tempat Kusuma menceburkan diri.Hal ini terus dilakukan sampai sekarang dan menjadi sebuah tradisi yang dilakukan masyarakat Tengger.Tradisi ini kemudian dinamakan Tradisi Kasadha.
Cerita Rakyat Sumatera Barat
Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.

Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.

Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.

Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.

Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. "Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.
Cerita Legenda Kalimantan
Disebuah bukit yang jauh dari desa, didaerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya.
Anak gadis janda itu sangat cantik jelita. Namun sayang, ia mempunyai prilaku yang amat buruk. Gadis itu amat pemalas, tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya hanya bersolek setiap hari.
Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi.
Pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang dijalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara ibunya berjalan dibelakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Karena mereka hidup ditempat terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.
Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. Namun ketika melihat orang yang berjalan dibelakang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya.
Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu, "Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan dibelakang itu ibumu?"
Namun, apa jawaban anak gadis itu ?
"Bukan," katanya dengan angkuh. "Ia adalah pembantuku !"
Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekati lagi seorang pemuda dan bertanya kepada anak gadis itu.
"Hai, manis. Apakah yang berjalan dibelakangmu itu ibumu?"
"Bukan, bukan," jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. " Ia adalah budakk!"
Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang disepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya.
Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri. Namun setelah berulang kali didengarnya jawabannya sama dan yang amat menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak dapat menahan diri. Si ibu berdoa.
"Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia...."
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.
" Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu...Ibu...ampunilah anakmu.." Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut " Batu Menangis ".
Demikianlah cerita berbentuk legenda ini, yang oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi.
Cerita Rakyat Jawa Barat
Pada jaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung.

Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari.

Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. “Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta,” kata Prabu Tapa.

Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. “Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya,” gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. “Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !” ujar Purbararang.

Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, “Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri”. “Terima kasih paman”, ujar Purbasari.

Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.

Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.

Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. “Apa manfaatnya bagiku ?”, pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.

Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. “Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !”, kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.

“Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku”, kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Jadi monyet itu tunanganmu ?”.

Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.

Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.
JAWA Barat kaya akan tradisi kerakyatan, termasuk cerita rakyat. Meskipun tradisi istana pernah hidup di Jawa Barat, karena mengalami zaman dua kerajaan besar, yakni Galuh di daerah Ciamis dan Pajajaran di daerah Bogor, sedikit sekali ditemukan artefak-artefak budaya istana. Kerajaan-kerajaan Hinduistik di Jawa Barat lenyap bersama pendukungnya, yakni masyarakat istana. Kerajaan-kerajaan Islam yang kemudian muncul di Jawa Barat tidak melanjutkan tradisi istana-istana sebelumnya. Kerajaan-kerajaan Islam itu adalah Banten dan Cirebon.

Banten dan Cirebon cenderung kejawa-jawaan akibat hubungan mereka dengan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akan tetapi, apabila ditilik lebih dalam, masih akan tampak ciri-ciri kesundaan di kedua kerajaan Islam tersebut. Bagaimanapun kerajaan-kerajaan Islam tersebut masih berada di masyarakat Sunda sehingga tradisi lokal mendasari kebudayaan di kedua kerajaan tadi.

Tradisi kerakyatan masih terus hidup di bawah arus budaya-budaya istana yang silih berganti. Ini disebabkan sistem kerajaan-kerajaan di Jawa Barat berbeda dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kerajaan-kerajaan Jawa berdasarkan masyarakat sawah, sedangkan kerajaan-kerajaan Sunda berdasarkan masyarakat huma. Kebudayaan istana di Jawa Barat hanya berkembang di lingkungan terbatas masyarakat nagara. Di Jawa Barat tidak dikenal adanya negaragung dan mancanegara seperti di Jawa.

Masyarakat istana adalah masyarakat Sunda di negara itu, yakni istana dan wilayah yang benar-benar dikuasainya secara langsung. Hal ini bisa disimak dalam Babad Pakuan abad ke-18 yang ditulis dalam bentuk wawacan berbahasa Jawa. Saya telah menulis perkara ini dalam Hermeneutika Sunda. Di luar wilayah, nagara merupakan kesatuan-kesatuan kampung Sunda yang berpindah-pindah akibat hidup dari ladang padi (huma).

Sudah barang tentu pengaruh istana sampai juga di wilayah-wilayah kampung Sunda. Seperti kita saksikan bahwa teks-teks tertulis Sunda lama masih disimpan oleh penduduk perkampungan di Jawa Barat.

Selain itu carita-carita pantun yang berisi mitos-mitos istana Sunda masih tersebar di kalangan rakyat perdesaan. Hanya artefak-artefak istana sudah sulit ditemukan di kalangan rakyat, misalnya batik istana Sunda, seni ukir istana Sunda, buku-buku Hindu-Buddha, tata adat istana Sunda, dan seni gamelan, karena masyarakat istana-istana Sunda itu memang tidak berlanjut sebagai lembaga sosial.

Pemandangan semacam itu masih terlihat pula ketika di Jawa Barat berdiri kerajaan-kerajaan Islam di Banten dan Cirebon. Kedua kerajaan itu juga terdiri dari wilayah negara atau negaragung saja. Wilayah mancanegara tidak dikenal. Apalagi bahasa di wilayah negara dan negaragung berbeda dengan bahasa masyarakat perdesaan Sunda.

Dengan demikian, semakin kuatlah kesan kita bahwa kebudayaan Sunda yang berkontinuitas itu hanya ada di kalangan masyarakat kampung. Berbeda dengan masyarakat Sunda di zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, yang hubungan antara istana dan rakyat amat tipis, maka di zaman penyebaran agama Islam di Jawa Barat, agen-agen perubahan ke arah Islam benar-benar keluar masuk kampung-kampung Sunda. Hal ini tercermin dalam mitos-mitos rakyat terhadap penyebar Islam seperti Kian Santang.

Tidak mengherankan apabila di kalangan masyarakat pedesaan Sunda, kenangan terhadap zaman kebudayaan Hindunya amat tipis, bahkan tidak mengenal zaman seperti itu. Mereka percaya bahwa agama Islam itu sudah sejak awalnya ada di Sunda. Sunda itu Islam.

Inilah sebabnya cerita-cerita rakyat Sunda amat kuat kesan keislamannya. Meskipun dalam cerita-cerita rakyat dikenal nama-nama dewa dan batara yang kehindu-hinduan, namun tidak dalam pemahaman bahwa itu berdasarkan agama Hindu-Buddha, tetapi Sunda semata-mata, Kebudayaan Hindu-Buddha-Sunda itu hanya dikenal di kalangan intelektual moderennya. Di kalangan rakyat, zaman Hindu itu adalah Sunda.

Lenyapnya ingatan kolektif terhadap kebudayaan Hindu-Sunda, lebih mirip dengan yang terjadi di Sumatra. Di zaman kejawaan Hindu-Buddha di Sumatra dikenal kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Jambi, Melayu, dan Tulang Bawang. Akan tetapi, begitu kerajaan-kerajaan maritim itu lenyap, maka lenyap pulalah masyarakat pendukungnya dalam arti lembaga. Manusia-manusia Buddha-Sumatra tentu saja masih terus ada, tetapi kemudian bercampur lebur dalam masyarakat luar istana. Ini disebabkan kerajaan-kerajaan maritim yang besar itu tidak memerlukan ladang atau sawah untuk mendukung keberadaannya. Mereka hanya butuh pelabuhan dan tentara sewaan (pegawai tentara) yang mampu menjaga kedaulatan negara kota maritimnya.

Sedangkan hubungan mereka dengan rakyat kampung hanya terbatas pada jual-beli atau pajak berupa hasil kebun rempah-rempah dan produk hutan yang lain.

Seperti di Sunda, Islam juga tertanam kuat di kalangan rakyat Sumatra. Kenangan mereka terhadap kejayaan Jambi dan Sriwijaya tidak ada, kecuali di lingkungan golongan terpelajarnya yang mengenal penggalian sejarah sarjana-sarjana kolonial. Dewa-dewa juga dikenal di kalangan rakyat Sumatra, namun tetap harus dibaca sebagai hal yang bersifat Melayu dan bukan Hindu-Buddha.

Keadaan yang berbeda terjadi di kalangan rakyat Jawa. Di lingkungan rakyat, dan lebih lebih istana, amat kuat kenangan kolektif mereka atas budaya Hindu-Buddha sebelumnya. Mereka menyebutnya sebagai agomo Buddho (agama Buddha). Hal ini disebabkan sistem kerajaan sawah mereka yang konsentris sejak awal. Hal ini pun dipermudah karena masyarakat sawah itu menetap. Kontinuitas budaya rakyat dan istana terus berlangsung, bahkan di kalangan rakyat cenderung berbudaya istana.

Tradisi budaya istana di Jawa Barat amat tipis di kalangan rakyat. Sebaliknya tradisi budaya rakyat perladangan amat kuat. Tradisi ini diwariskan secara lisan. Tradisi budaya lisan selalu auditif. Karena sifatnya auditif maka budaya ini hanya berkembang di kelompok komunitas terbatas. Dengan demikian sifat auditif mengembangkan relasi kekeluargaan (gemeinschaft), harmoni, partisipasi, menekankan kekonkretan dalam bentuknya yang sederhana. Komunikasi lisan semacam itu cenderung menyampaikan pesan-pesan komunal melalui bentuk cerita-cerita.

Cerita-cerita rakyat di Jawa Barat amat kaya, isinya tentang mitos, siluman, legenda, kehidupan rakyat sehari-hari, dan dongeng binatang. Usaha mengumpulkan jenis-jenis cerita rakyat tersebut masih sedikit dilakukan, apalagi peneelaahan serius atas cerita-cerita tersebut. Mitos dan legenda lokal tentu bersifat Sunda. Akan tetapi, cerita binatang sering berasal dari luar. Sedangkan cerita kehidupan rakyat sehari-hari banyak bersifat lokal, namun juga sering diadaptasi dari luar, seperti dalam cerita-cerita Si Kabayan.

Yang menarik adalah cerita-cerita binatang yang khas Sunda, yakni Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet. Cerita binatang ini sering mengambil cerita-cerita luar, namun digarap dalam alam pikir masyarakat Sunda. Yang terkenal adalah cerita kedua binatang tersebut, kura-kura dan kera yang mirip dengan cerita-cerita kancil di Jawa, dalam tema mencuri hasil kebun pak tani. Dalam usaha mereka mencuri tanaman, kura-kura berhasil ditangkap pak tani.

Ketika kura-kura dikurung pak tani, monyet datang dan diberi tahu kura-kura bahwa dirinya dikurung agar tak lari untuk dikawinkan dengan putri pak tani yang cantik. Monyet bersedia bertukar tempat untuk menggantikan kura-kura di dalam kurungan. Pagi hari pak tani menjumpai kura-kura telah berganti monyet dan bermaksud untuk memotongnya. Mengetahui hal ini monyet pura-pura mati, dan pak tani membuang "mayat" monyet itu di sungai. Dengan begitu, monyet dan kura-kura pun bebas kembali.

Dalam cerita yang sama, monyet itu tidak bebas. Akan tetapi, berhasil dipotong pak tani dan disate. Dalam cerita Sunda justru kedua binatang itu selamat semua akibat kecerdikan keduanya. Kura-kura dan monyet dalam cerita rakyat Sunda merupakan pasangan antagonis. Keduanya selalu berselisih adu kecerdasan, namun selalu saling bertemu kembali. Kura-kura di pihak protagonis dan monyet pihak antagonis. Kura-kura simbol binatang air, monyet binatang gunung dan hutan. Apakah ini simbol budaya sawah Sunda melawan budaya ladang Sunda?

Cerita binatang Kuya Jeung Monyet (kura-kura dan monyet) disatukan dalam bentuk paradoks dalam tokoh Si Kabayan. Tokoh ini kesatuan watak kura-kura dan monyet, kecerdasan dan kebodohan. Cerdas bagai kuya dan bodoh bagai monyet. Si Kabayan bisa jadi simbol Sunda-air dan Sunda-gunung sekaligus serta menjadi jati diri Sunda secara budaya. Si Kabayan adalah tokoh bodoh-pintar. Terkadang begitu bodohnya dan di lain saat begitu cerdasnya.

Nanti kalau kita perhatikan, Kabayan sebagai tokoh bodoh selalu berhubungan dengan nilai-nilai rohaniah, sedangkan sebagai tokoh pintar selalu berhubungan dengan manusia lain. Kebodohan Kabayan adalah juga kebodohan kita secara rohani. Di hadapan nilai-nilai rohaniah-ketuhanan dan illahiah, Kabayan digambarkan begitu bodohnya sehingga tidak mampu membedakan antara bayangan dan kenyataan.

Cerita-cerita Si Kabayan bodoh tidak begitu banyak. Kebodohan Kabayan dalam cerita-cerita semacam itu sering keterlaluan. Misalnya Kabayan tak bisa membedakan antara mayat dan manusia hidup, antara bayangan langit dan permukaan tanah di sawah.

Kebodohan Kabayan yang demikian itu ternyata simbolik rohani. Kita ini bodoh spiritual. Dalam hal ini, Si Kabayan bukan hanya jati diri Sunda, tetapi jati diri manusia itu sendiri.

Kesundaan Si Kabayan ada pada latar lokalitasnya. Bahwa dalam masyarakat Sunda cara hidup sehari-harinya semacam itu, seperti pergi ke sawah, ke huma, ke hutan, pasang perangkap hewan, kenduri, haji, salat, pohon tertentu, mandi di kali, dan lain-lain. Akan tetapi dalam alam pikiran dan sikap spiritual benar-benar untuk semua manusia, hanya kadang terselip kosmologi Sunda lama. Sebagai cerita rakyat, Si Kabayan memang menggambarkan manusia di tanah Sunda. Tema dan pesan tetap universal.

Sebagai cerita rakyat Sunda Si Kabayan sejajar dengan Abu Nawas dan Koja Nasrudin. Orang sering menyejajarkan Si Kabayan dengan tokoh pintar-bodoh di suku-suku lain. Akan tetapi tokoh-tokoh cerita rakyat suku-suku lain itu tidak sekaya Si Kabayan. Cerita-cerita mereka kadang hanya diwakili satu cerita.

Cerita Si Pandir di Melayu, misalnya, meliputi beberapa cerita saja. Begitu pula Si Luncai dan Pak Senik, hanya ada satu dua ceritanya. Sedangkan Si Kabayan, kalau dikumpulkan bisa mencapai seratus cerita lebih. Coster-Wijaman bisa mengumpulkan 80 cerita di daerah Banten saja.

Sebagai cerita rakyat milik masyarakat Sunda, Si Kabayan memang istimewa, setara dengan pantun-pantun Sunda. Cerita-cerita itu amat dalam kalau ditafsirkan secara budaya. Cerita-cerita itu sama sekali bukan dongeng-dongeng seperti diperkirakan orang, namun tidak semua berkualitas demikian, sebab banyak para peniru Si Kabayan yang hanya melihat permukaan ceritanya.

Cerita-cerita yang demikian itu tidak serta merta membangkitkan adanya struktur-struktur berpikir simbolik. Sehingga banyak juga cerita-cerita Si Kabayan baru yang hanya tertarik pada segi humornya, namun tidak dilandasi oleh cara berpikir budayanya.

Mengapa istimewa?

Si Kabayan itu tokoh paradoks yang membangun cerita-cerita paradoks pula. Tokoh demikian itu jelas muncul dari pemikiran mendalam seorang (atau beberapa orang) intelektual. Bobot sastrawinya amat tinggi. Meskipun diceritakan secara lisan sehingga banyak ditambah dan dikurangi sesuai dengan perubahan masyarakatnya, inti pesannya masih amat jelas. Bahkan kita dapat merekonstruksi bentuk aslinya.

Permata itu tetap permata, meskipun berada di mulut kerbau. Dengan mudah kita dapat memilih mana Si Kabayan yang autentik dan mana Si Kabayan artifisial. Untuk menulis cerita Si Kabayan yang baru diperlukan dasar pengetahuan filsafat, bukan sekadar menulis cerita.

Cerita Si Kabayan itu memiliki dasar pandangan mistisisme dan laku mistis itu memang penuh paradoks. ***
1. Rumah Adat
Rumah adat Sulawesi Selatan disebut Tongkonan. Tongkonan adalah rumah adat orang Toraja di Sulawesi Selatan. Kolong rumah itu berupa kandang kerbau belang atau tedong bonga. Kerbau ini merupakan lambang kekayaan, disepan rumah tersusun tanduk tanduk kerbau,sebagai perlambang pemiliknya telah berulang kali mengadakan upacara kematian secara besar besaran. Tongkonan terdiri dari 3 ruangan yaitu ruang tamu, ruang makan, dan ruang belakang.
Rumah Adat Tongkongan
2. Pakaian Adat
Pakaian adat Selawesi Selatan yang dipakai prianya berupa tutup kepala, baju yang disebut baju bella dada, sarung yang disebut tope, keris tata ropprng (terbungkus dari emas seluruhnya) dan gelang nada yang disebut pottonaga.
Sedangkan wanitanya memakai ikat kepala, baju lengan pendek, Tope atau sarung dengan rantainya, ikat pinggang dengan sebilah keris terselip didepan perut. Perhiasan yang dipakai adalah anting anting panjang atau bangkara a’rowe, kalung tunggal atau geno sibatu dan gelang tangan. Pakaian ini berdasarkan adat Bugis Makasar.
3. Tari tarian Daerah Selawesi Selatan
a. Tari Kipas, yang mempertunjukkan kemahiran para gadis dalam memainkan kipas dalam suasana gemuaku sambil mengikuti alunan lagu.
b. Tari Basaro,merupakan tarian untuk menyambut para tamu terhormat. Gerak gerakkan badannya sangat luwes.
c. Tari Bo’da, yang mendasarkan garapannya pada unsur gerak tari tradisional yang berkembang di Kabupaten Selayar. Dengan iringan musik Bo’da kesuluruhan gerakkannya menggambarkan luapan kegembiraan gadis gadis dimalam terang bulan pada saat menjelang musim panen.
Tari Kipas
4. Senjata Tradisional
Badik merupakan senjata tradisional yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan. Bentuknya kokoh dan cukup mengerikan. Senjata terkenal lainnya adalah peda (semacam perang), sabel, tombak, dan perisai.
Badik
5. Suku : Bugis, Makkasar, Mandar, Toraja, dan lain lain.
6. Bahasa Daerah : Makkasar, Bugis, Toraja, Mandar, dan lain lain.
7. Lagu Daerah : Angin Mamiri, Pakarena, Marencong.

Sate Madura



Sate Madura adalah khas Madura. Sate Madura biasanya terbuat dari ayam. Madura selain terkenal sebagai pulau garam, juga terkenal dengan satenya. Sate madura sudah terkenal di seluruh Nusantara, Sate Madura dapat ditemukan hampir di semua daerah khususnya di kota besar seperti Medan, Jakarta, Bandung dan Surabaya. Konon di Madura sendiri sate susah dicari. Tetapi selain ayam sebagai bahan utama sate juga ada yang menggunakan kambing yang ditandai dengan digantungnya bagian kaki belakang si kambing di rombong sang penjual sate. Bumbunya adalah campuran kacang yang ditumbuk halus petis dan sedikit bawang merah. Memanggangnya dengan api dari batok kelapa yang dihanguskan lebih dulu yang disebut dengan arang batok kelapa. Rasanya gurih tapi dipantangkan kepada mereka yang berkolesterol tinggi dan yang pengidap asam urat akut. Sate Madura umumnya adalah sate ayam yang diberi sambal berupa saus kacang. Namun di Madura sendiri kadangkala yang dipakai bukanlah saus kacang namun saus atau sambal kemiri. Selain itu seringkali arang pembakaran sate ini sering ditaburi dengan jeruk limau.]
 

keunikan soto betawi

soto betawiii
                     Kenikmatan citarasa Soto Betawi untuk menu usaha tidak hanya bisa dinimati oleh orang Jakarta dan sekitarnya saja loch. Untuk anda yang berada di daerah lain, peluang usaha Soto Betawi juga cukup mumpuni apalagi kalau anda bertemopat tinggal sekitar wilayah pendatang. Misalnya saja, area kampus. Menu yang beda dari pilihan lain pasti jadi pilihan para pelanggan!
            Isi soto Betawi seperti daging goreng dan jeroan seperti hati, limpa, usus, dan babat, lalu diberi potongan tomat segar, daun bawang, emping, kerupuk, dan bawang goreng. Soto Betawi dimakan bersama acar mentimun dan sambal rawit merah.
          Uniknya, kuah Soto Betawi kadang dicampur susu sapi supaya terasa lebih enak tapi tentu saja sesuai selera anda masing-masing. Atau, susu sapi dan santan bisa diganti kremer supaya lebih sehat dibanding kedua bahan tersebut.
Nah untuk pemula, resep berikut dari sajiansedap bisa jadi alternatif latihan masak soto betawi. Ini dia rekomendasinya!
Bahan-bahan/bumbu-bumbu :
300 gram daging sandung lamur, dipotong 1 x 2 cm
1.500 ml air untuk merebus daging
150 gram babat, direbus
100 gram paru, direbus
2 lembar daun salam
3 cm kayumanis
1 sendok teh pala bubuk
800 ml santan dari 1 1/2 butir kelapa
2 sendok makan minyak
Bumbu Halus:
12 butir bawang merah
4 siung bawang putih
1 cm jahe
1 cm lengkuas
1 sendok teh ketumbar, disangrai
3/4 sendok teh merica
3/4 sendok teh jinten
3 butir kemiri, disangrai
6 sendok teh garam
2 sendok teh gula pasir
Pelengkap:
2 batang daun bawang, diiris tipis
1 batang daun seledri, diiris tipis
2 buah tomat, dipotong – potong
kecap manis
bawang goreng
emping goreng
Sambal Rawit:
20 buah cabai rawit merah, direbus
1/4 sendok teh garam
Cara Pengolahan :
  1. Rebus daging dengan air sampai lunak dan empuk. Ukur kaldunya 1.500 ml.
  2. Panaskan minyak. Tumis bumbu halus, daun salam, kayumanis, dan pala sampai harum. Masukkan daging dan jeroan. Aduk rata.
  3. Masukkan kaldu. Masak sampai mendidih. Masukkan santan.
  4. Sajikan dengan pelengkap dan sambal.